YOU ARE WHAT YOU THINK AND BELIEVE…

Kalau diterjemahkan secara bebas artinya “Anda adalah apa yang Anda pikirkan dan percayai”. Saya tergelitik ketika melihat tagar-tagar berseliweran di media sosial yang seolah-olah menyatakan kalah sebelum bertempur atau berjuang. Playing victim. Membuat suasana dan kondisi publik menjadi gaduh dengan mencoba “seolah-olah” menjadi korban, padahal kompetisi atau kejuaraan belum selesai dilaksanakan. Mencoba menyudutkan sebuah badan pengawas pemilu agar bila salah satu grup kalah maka hal tersebut adalah diakibatkan oleh kecurangan badan tersebut. Publik masih ingat betul, cara-cara “playing victim” yang pernah terjadi pada Ratna Sarumpaet, terbukti hoax nasional. Kontainer kotak suara asing. Hoax juga. Hoax emak-emak kampanye 01 akan legalkan LGBT dan menghilangkan Adzan. Lah wakilnya aja Ketua MUI, masa iya percaya Adzan yang syahdu akan dihilangkan dari negeri berpenduduk muslim terbesar? Saya tidak habis pikir, hoax apalagi yang harus publik terima sampai waktunya hari H pencoblosan nanti.

Sungguh “amazing” memang dinamika politik di negeri ber-flower alias +62 ini. Segala cara dipakai dan dihalalkan. Teriak anti asing sekarang malah koar-koar minta pengamat asing. Lucu kan ya? Teriak-teriak anti asing malah mau panggil juru hitung dari Hongkong untuk hitung BPJS.

Cara-cara serta narasi KPU/Bawaslu curang sudah dilantangkan jauh-jauh hari, bahkan sebelum kompetisi dimulai (aneh ya kompetisi belum dimulai sudah teriak wasit curang). Salah satu pasangan menyatakan akan mundur dari pemilu. Lah kalau memang merasa seperti itu ya sudah lebih baik mundur, jangan masyarakat diadu domba seperti cara-cara kolonial atau komunisme.

Usaha-usaha untuk menghancurkan kredibiltas KPU/Bawaslu menurut saya adalah usaha busuk yang menunjukkan betapa depresi nya pihak oposisi. Sesudah berbagai survei memperlihatkan jarak masih sangat besar sekitar 20% lebih, maka menghalalkan segala cara demi kekuasan pun wajib fardhu hukumnya dijalankan. Tidak ada kompromi. Firehouse of falsehood harus terus ditingkatkan dan ditambah amunisi nya.

By the way mohon dibedakan antara Observer/Pemantau dengan Pengawas. Kalau observer itu hanya memantau saja, bukan mengawasi. Tugas mengawasi tetap di KPU/Bawaslu. Pun begitu, KPU mempersilahkan jika 02 mengundang pemantau internasional untuk memantau jalan nya Pilpres 2019. Tidak ada yang SOS. Kecuali jika KPU/Bawaslu tidak memperkenankan nya. Lain ceritanya.

Kata-kata curang adalah propaganda busuk yang harus dilawan. Jika Anda berpikir Anda akan kalah, maka realitas di alam nyata akan terjadi, Anda akan kalah. Tagar yang Anda sebarkan adalah sebuah doa yang akan dijawab oleh Tuhan Penguasa Alam Semesta. Ingatlah, Anda adalah apa yang Anda pikirkan dan percayai. You are what you think and believe. Bermainlah elegan. Berpikirlah positif. Jika Anda berpikir Anda menang, maka sebaiknya sebarkan tagar tersebut, maka Tuhan dan seluruh Alam Semesta akan mengaminkan nya…

Maka jika Anda berpikir, mempercayai dan mengatakan bahwa kubu 02 akan kalah melalui bentuk tagar-tagar di media sosial, maka Tuhan pun akan berkata “Your wish is my command”. Kun fayakun. Jadi, maka terjadilah. Berhati-hatilah dengan apa yang Anda pikirkan dan percayai… Karena itulah yang akan menjadi realitas kenyataan yang menurut Tuhan layak untuk Anda dapatkan dan terima di kemudian hari…

Salam hormat saya,
www.deelesmana.com
#01Juara
#LanjutkanJokowiLagi
#2019JokowiLagi

Share This:

Leave a comment

Leave a Comment