Dear saudaraku yang baik,

Dalam 1 hari ke depan semenjak info ini dikirimkan, kita akan menjumpai pergantian tahun dari 2018 ke 2019.

Ada sebagaian orang yang merasa perlu membuat goal, dan ada yang merasa tak perlu membuat goal.

Kalau Anda tipe yang mana? Bikin atau nggak bikin goal?

Kalau yang bikin goal, kali ini saya mau share sedikit tentang cara setting goal yang benar dengan pendekatan ilmu NLP (Neuro Linguistic Programming) dengan sedikit modifikasi dari saya.

Siap mengetahui bagaimana caranya?

So, setting goal yang baik adalah goal yang bersahabat dengan pikiran bawah sadar. Semua harus rasional, dan cara mencapainya pun jelas.

Sebelum masuk ke inti bahasan tentang bagaimana cara setting goal, pastikan Anda memilih kata yang nyaman untuk diri Anda.

Silakan baca beberapa kata berikut ini:

Target
Goal
Outcome

Mana yang membuat Anda nyaman ketika mendengarnya?

Ketika Anda mendengar kata ‘Target’, nyamankah perasaan Anda?

Ketika Anda mendengar kata ‘Goal’, nyamankah perasaan Anda?

Ketika Anda mendengar kata ‘Outcome’, nyamankah perasaan Anda?

Nah, silakan pilih salah satu istilah tersebut untuk menyebut apa yang Anda inginkan.

Pertanyaannya adalah, mengapa harus yang nyaman?

Karena begini, perasaan itu memancarakan energi dan vibrasi. Kalau dari awal rasa kita udah nggak nyaman, itu artinya energi dan vibrasi yang kita pancarkan udah nggak beres. Kalau vibrasi yang dipancarkan nggak beres, maka akan berdampak tidak baik pada goal yang disetting.

Selanjutnya, setelah itu ada beberapa kaidah penting dalam ilmu NLP agar presentasi tercapainya goal lebih tinggi, yaitu goal harus:

1. Positive State

Pertama, ketika membuat goal, pastikan goal yang disetting dinyatakan dengan kalimat yang positif. Contoh: per Mei 2019 pertumbuhan bisnis saya di atas sekian persen.

2. Dapat Diinderakan

Pastikan goal bisa diinderakan. Maksudnya adalah, panca indera Anda bisa merasakan bagaimana goal tersebut terlihat, terdengar, dan bagaimana rasanya ketika goal tersebut tercapai.

3. Kontekstual

Selanjutnya, pastikan goal yang disetting sesuai dengan konteksnya. Misalnya Anda setting goal dalam konteks bisnis ya pastikan goal tersebut tetap dalam konteks bisnis, nggak melebar-lebar, agar action plannya bisa terukur dengan baik.

4. Self-Controled

Nah, ini salah satu yang paling penting dari semuanya, dan yang paling menentukan besarnya presentasi tercapainya goal. Yaitu, goal yang disetting harus sebisa mungkin dalam kontrol diri kita sendiri.

Maksudnya adalah, pastikan sumberdaya-sumberdaya yang dibutuhkan untuk mencapai goal dapat kita kontrol. Misalnya, Pak Budi punya bisnis properti dan ingin di tahun 2019 proyek properti yang ia garap terjual 100 unit.

Maka Pak Budi harus memastikan apakah ia punya database prospek pembeli yang mencukupi?

Apakah ia punya dana marketing yang cukup untuk mencapai target tersebut?

Apakah dia punya tim yang dapat mensupport goalnya?

5. Why?

Ini juga penting. Adalah, kenapa Anda harus mencapai goalnya? Kenapa? Kenapa? Kenapa?

Pastikan alasan di balik goal tersebut adalah alasan yang sangat kuat, sehingga diri Anda tergerak untuk mewujudkannya.

Sebisa mungkin, alasan tersebut adalah alasan yang masuk dalam ranah nilai-nilai (value) yang Anda anggap penting. Kesejahteraan keluarga, misalnya. Karena dengan memilih nilai yang dianggap penting, membuat seseorang berjuang habis-habisan untuk memperjuangkan eksistensi nilai tersebut.

6. Action yang terukur

Yang terakhir adalah, action plan yang terukur, dan tentu saja eksekusi plan tersebut!

Bagaimana cara membuat action plan yang terukur dan bersahabat dengan pikiran bawah sadar? Kita langsung kasih contoh saja ya?

Begini, misal Pak Sigit ingin bisa berangkat umroh pada bulan Agustus 2019, dan kebetulan profesi pak sigit adalah seorang pengusaha. Selanjutnya adalah, Pak Sigit harus tau, berapa biaya yang dibutuhkan untuk umroh? Oh, katakanlah 30 juta.

Selanjutnya, ada jangka waktu berapa lama yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai goal tersebut? Dari Januari ke Agustus, maka jaraknya adalah 8 bulan.

Maka 30 Juta : 8 Bulan = Rp 3.750.000,- / Bulan.

Bagaimana cara mendapatkan 3,75 juta per bulan?

Katakanlah Pak Sigit punya produk yang marginnya 100 Ribu per produk, maka ia butuh setidaknya 38 orang saja yang beli produknya per bulan.

Selanjutnya, berapa closing rate dari prospek menjadi pembeli? Katakanlah setelah dicek data penjualan Pak Sigit, ia menemukan closing ratenya 50%

Berarti dalam sebulan, paling tidak ia harus berjualan ke minimal 76 orang, agar goal tersebut tercapai.

Lebih lanjut lagi, bagaimana cara mendapatkan prospeknya?

Di mana biasanya target prospek tersebut berkumpul?

Dan selanjutnya, dan selanjutnya hingga ia menemukan action plan inti yang harus dilakukan setiap hari agar goal tersbut tercapai.

So, itu tadi adalah sedikit sharing tentang bagaimana cara mensetting goal yang benar ala NLP.

Jika Anda aliran yang perlu membuat goal, sudah siap merancang goal Anda?

Semoga bermanfaat!

Share This:

Leave a comment

Leave a Comment